Komunitas Key She

Full Version: Tentang Musibah?
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Musibah yang terjadi di tambang emas Gunung Pongkor, Kab. Bogor, memang tragis. Duka cita yang sedalam-dalamnya bagi korban, semoga arwah mereka diterima Tuhan YME. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran dan ketabahan. Dan bagi kita semoga menjadi pelajaran yang berguna.
Jadi teringat pengalaman saya ketika memasuki sebuah gua sekitar 10 km sebelah utara Pantai Karangbolong, Kebumen. Atau biasa disebut dengan karst Gombong Selatan.

Hari pertama (pagi) kami memasuki dan memetakan Gua Pucung yang di dalamnya terdapat sebuah mata air di atas sebuah flowstone. Kemudian kami menuruni sebuah internal pitch dan menemukan sungai bawah tanah dan memetakan selama beberapa jam. Sekitar pukul 3 sore, kami memutuskan untuk naik sekalipun gua masih panjang. Kami berencana untuk meneruskannya besok.

Sampai di atas pitch, saya melihat asap yang sangat tebal dan dicium dari baunya adalah asap hasil pembakaran. Saat itu saya belum tahu apa yang terbakar. Tapi asap tersebut cukup tebal sehingga mengurangi jarak pandang di dalam gua tersebut. Baru setelah sampai di mataair, saya melihat seorang ibu dan anaknya sedang menampung air di sebuah tempayan. Dan penerangannya? Ibu ini membakar daun kelapa untuk obor (bhs Jawa: obor blarak).

Di hari kedua kami meneruskan pemetaan di Gua Pucung. Waktu masuk asap sisa kemarin masih ada tapi tipis sekali. Tetapi, begitu keluar, asap seperti yang ada kemarin terjadi lagi dan jauh lebih tebal. Saking tebalnya saat itu saya sempat kehilangan orientasi saat melepaskan diri dari tali untuk menuju ke tempat yang aman.

Begitu pula teman yang menyusul dari bawah.

Perjalanan kami keluar sangat lambat. Karena kami harus melihat rute yang kami lewati dengan membungkukkan badan. Asap telah memenuhi lorong dari atap hingga sekitar 30cm diatas lantai.

Sesampai di mata air flowstone, kami melihat beberapa obor blarak yang tergeletak disitu dan bekas terbakar.

Sebenarnya, untung bagi kami bahwa jarak dari internal pitch ke mulut gua tidak begitu jauh. Namun begitu yang namanya gua tetap saja tidak sama dengan lorong tambang. Licin, nggak rata, dan harus milih sisi mana yang harus dilewati. Apalagi lorong berbentuk key hole passage (lorong seperti lobang kunci). Kadang harus lewat di bawah, atau pindah ke sisi kiri, satu saat lagi harus pindah ke sisi kanan.

Saya pernah dengar dari salah seorang senior, di Amerika pernah kejadian sebuah tim yang tewas di dalam gua oleh teman-teman mereka sendiri yang membuat perapian di mulut gua. Asapnya terhisap kedalam gua dan menjebak rekan-rekan hingga tewas.

Semoga kejadian semacam ini tidak terulang lagi, juga kejadian-kejadian buruk yang lainnya.
Reference URL's