Komunitas Key She

Full Version: tugas kelompok(bio)
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
PERKEMBANGAN RELIGI, MORAL, NILAI, dan SIKAP
[/align]
1. Pengertian dan Saling Keterkaitan antara Nilai, Moral, dan Sikap serta Pengaruhnya terhadap Tingkah Laku.
Nilai- nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan d
an sopan santun.
Nilai- nilai yang terkandung dalam Pancasila yang termasuk dalam sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, antara lain:
1) mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
2) Menegembangkan sikap tenggang rasa,
3) Tidak semena- mena terhadap orang lain, berani membela kebenaran dan keadilan, dsb

Moral adalah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dsb, dengan demikian moral merupakan kendali dalam bertingkah laku, dan merupakan kontrol dalam sikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai- nilai hidup yang dimaksud. Contohnya: sopan santun, tata krama, norma-norma masyarakat.
Religi, yaitu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam semesta ini adalah sebagian dari moral. Hal itu karena dalam moral sebenarnya diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, serta perbuatan yang dinilai tidak baik sehingga perlu dihindari.
Sedangkan menurut Gerung, sikap secara umum diartikan sebagai kesediaan bereaksi individu terhadap sesuatu hal.
Dengan demikian, keterkaitan antara nilai, moral, sikap dan tingkah laku akan tampak dalam pengamalan nilai-nilai. Dengan kata lain nilai-nilai perlu dikenal terlebih dahulu , kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan pada akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud.

2. Karakteristik Nilai, Moral, dan Sikap Remaja
Michel meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja, yaitu sbb:
1) Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak
2) Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan yang muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.
3) Penilaian moral menjadi semakin kognitif.
4) Penilaian moral menjadi kurang egosentris
5) Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan emosi.

Dari hasil penyelidikan-penyelidikan Kohlberg mengemukakan enam tahap (stadium) perkembangan moral yang berlaku secara universal dan dalam urutan tertentu. Ada tiga tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg, yaitu tingkat:
1) Tingkat I, Prakonvensional, stadium 1 dan 2
Stadium 1, kepatuhan dan hukuman. Anak menganggap baik buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya. Anak hanya mengetahui bahwa aturan- aturan ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa di ganggu gugat. Ia harus menurut atau kalau tidak, akan memperoleh hukuman.
Stadium dua, berlaku prinsip Relativistik- Hedonisme, anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi. Jadi Relativisme artinya bergantung pada kebutuhan dan kesanggupan seseorang (hedonistik)
2) Tingkat II, Konvensional,
Stadium 3, anak mulai berumur belasan tahun, di mana anak memperlihatkan orientasi perbuatan- perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain.
Stadium 4, perbuatan baik yang diperlihatkan seseorang bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkunagna masyarakatnya, melainkan bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan- aturan atau norma-norma sosial.
3) Tingkat III, Pasca- Konvensional
Stadium 5, hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial, masyrakat, lingkungan sosial aatau masyarakat akan memberikan perlindungan kepadanya.
Stadium 6, Prinsip Universal, ada norma etik di samping norma pribadi dan subjektif.

3. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap
Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Bagi para ahli psikologi perkembangan moral dipandang sebagai proses internalisasi norma-norma masyarakat dan dipandang sebagai kematangan dari sudut organik biologis. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri buat pelanggaran –pelanggarannya. Faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak. Moral yang sifatnya penalaran menurut Kohlberg, perkembamngannya dipengaruhi oleh perkembangan nalar. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap perkembangan Piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.

4. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap
Pengertian moral dan nilai pada anak-anak umur sepuluh tahun atau sebelas tahun berbeda dengan anak-anak yang lebih tua. Pada anak-anak terdapat anggapan bahwa aturan-aturan adalah pasti dan mutlak oleh karena diberikan oleh orang dewasa atau Tuhan yang tidak bisa diubah lagi. Pengertian mengenal aspek moral pada anak-anak lebih besar, lebih lentur, dan nisbi. Ia bisa menawar atau minta mengubah sesuatu aturan kalau disetujui oleh semua orang.
Untuk sebagian remaja serta orang dewasa yang penalarannya terhambat atau kurang berkembang, tahap perkembangan moralnya ada pada tahap prakonvensional. Pada tahap ini seseorang belum benar-benar mengenal apalagi menerimaaturan dan harapan masyarakat. Pada tingkatan yang paling awal, pedoman mereka hanyalah menghindari hukuman. Sedangkan bagi mereka yang dapat mencapai tingkat kedua sudah ada pengertian bahwa untuk memenuhi kebutuhan sendiri seseorang juga harus memikirkan kepentingan orang lain.

5. Upaya Mengembangkan Nilai, Moral, dan Sikap remaja serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
a) Menciptakan Komunikasi
Anak-anak harus dirangsang agar lebih aktif, dan mengikutsertakan remaja dalam beberapa pembicaraan dan dalam pengambilan keputusan keluarga, sedangkan dalam kelompok sebaya, remaja turut serta secara aktif dalam tanggung jawab dan penentuan maupun keputusan kelompok.
b) Menciptakan Iklim Lingkungan yang Searsi
Seseorang yang mempelajari nilai hidup tertentu dan moral, kemudian berhasil memiliki sikap dan tingkah laku sebagai pencerminan nilai hidup itu umumnya adalah seseorang yang hidup dalam lingkungan yang secara positif, jujur, dan konsekuen senantiasa mendukung bentuk tingkah laku yang merupakan pencerminan nilai hidup tsb. Pengembangan tingkah laku nilai hidup hendaknya tidak hanya mengutamakanpendekatan-pendekatan intelektual semata tetapi juga mengutamakan adanya lingkungan kondusif dimana faktor-faktor lingkungan itu sendiri merupakan penjelmaan yang konkret dari nilai-nilai hidup tsb. Bahwa satu lingkungan yang lebih banyak bersifat mengajk, mengundang, dan memberi kesempatan, akan lebih efektif daripada lingkungan yang ditandai dengan larangan-larangan dan peraturan-peraturan yang serba membatasi.

6. Kesimpulan
Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norm yang berlaku dalam masyarakat atau prinsip-prinsip hidup yang menjadi pegangan seseorang dalam hidupnya, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga negara. Sedangkan moral adalah ajaran tentang baik, buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, dsb. Sikap adalah kesediaan bereaksi individu terhadap sesuatu hal. Keterkaitan antar lain, moral dan sikap tampak dalam pengamalan nilai-nilai. Pengenalan, penghayatan terhadap nilai-nilai, berdasarkna moral yang dimiliki akan terbentuk sikap dan diwujudkan dalam tingkah laku yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut
Tingkat perkembnagan pasca-konvensional harus dicapai oleh remaja. Menjadi remaja berarti mengerti nilai-nilai, yang berarti tidak hanya memperoleh pengertian saja tetapi juga dapat menjalankannya/ mengamalkannya. Orang tua dan orang penting lain disekitar remaja mempengaruhi nilai, moral, sikap. Menurut Kohlberg, di samping interaksi sosial, faktor anak ikut berperan dalam perkembangan moral. Terjadi perbedaan individual dalam perkembangan nilai, moral, sikap, sesuai dengan umur, faktor kebudayaan, dan tingkat pemahamannya.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pemgembangan nilai, moral, dan sikap remaja adalah menciptakan komunikasi di sammping memberi informasi dan remaja diberi kesempatan untuk berpartisipasi untuk aspek moral, serta menciptakan sistem lingkungan yang serasi/kondusif.

*Religi→Moral→Nilai→Sikap*
Moral dan Religi berbeda, karena moral mengatur baik untuk dikerjakan dan buruk untuk ditinggalkan di mata manusia, sedangkan Religi mengatur benar dan salah (Akhlak) di mata Allah SWT. Belum tentu baik di mata dunia, benar di mata Allah.

Kelompok 10:

1. SRI RAHAYU
2. SUCI CINTO KAMIKO
3. ENDAH SRI HANDAYANI
4. YULIA BASIR
[align=center]
Reference URL's