01-14-2010, 02:57 PM
Mata Kuliah Dosen Pembimbing
Perkembangan Peserta didik Dra. Titi Hastuty. M. Pd
TUGAS KELOMPOK 3
PERTUMBUHAN FISIK DAN PSIKIS SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAH LAKU REMAJA
Di susun oleh :
1. DINA HANDANIA
2. NOVIARATIH PARADISA. S
3. REFNI SRI YANTI. M
4. SILVI SARINASTITI
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
2009/2010
DAFTAR ISI
Hal
DAFTAR ISI……………………………………………………………..2
PERTUMBUHAN FISIK DAN PSIKIS SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAH LAKU REMAJA…………………………………………….3
A. Pertumbuhan Fisik Remaja…………………………………….....3
a. Percepatan Pertumbuhan……………………………………….....5
b. Proses Kematangan Seksual……………………………………...5
B. Perkembangan Psikologis Remaja……………………………......7
a. Pembentukan Konsep diri……………………………………...…7
b. Perkembangan Intelegensi………………………………………..8
c. Perkembangan Peran Sosial………………………………………9
d. Perkembangan Peran Gender……………………………………10
e. Perkembangan Moral dan Religi………………………………...10
KESIMPULAN…………………………………………………………..12
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………13
PERTUMBUHAN FISIK DAN PSIKIS SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAH LAKU REMAJA
A. Pertumbuhan Fisik Remaja
Pertumbuhan fisik adalah perubahan – perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan – perubahan ini meliputi ; perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri – ciri kelamin yang utama ( primer ) dan cirri kelamin kedua ( sekunder ).
Menurut Muss yang dikutip oleh Sarlito Wirawan ( Sarlito , 1991; 51 ) Urutan perubahan – perubahan fisik adalah sebagai berikut :
Pada anak perempuan :
1. Petumbuhan tulang – tulang (badan menjadi tinggi, anggota – anggota badan menjadi panjang).
2. Pertumbuhan payudara
3. Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kemaluan.
4. Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap tahunnya.
5. Bulu kemaluan menjadi keriting.
6. Menstruasi atau haid
7. Tumbuh bulu – bulu ketiak.
Pada anak laki – laki :
1. Pertumbuhan tulang – tulang
2. Testis ( buah pelir ) membesar
3. Tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap.
4. Awal perubahan suara.
5. Ejakulasi ( keluarnya air mani ).
6. Bulu kemaluan menjadi keriting.
7. Pertumbuhan tinggi badan mencapai tinggi maksimum setiap tahunnya.
8. Tumbuh rambut – rambut halus di wajah ( kumis, jenggot ).
9. Tumbuh bulu ketiak.
10. Akhir perubahan suara.
11. Rambut – rambut di wajah bertambah tebal dan gelap.
12. Tumbuh bulu di dada.
Penyebab perubahan
Penyebab perubahan pada masa remaja adalah adanya dua kelenjer yang menjadi aktif bekerja dalam system endokrin. Kelenjer pituitary yang terletak di dasar otak mengeluarkan dua macam hormon. Kedua hormon itu adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh dan hormon gonadotropik atau sering disebut hormon yang merangsang gonad – yaitu merangsang gonad agar mulai aktif bekerja.
Adapun perubahan – perubahan fisik yang penting dan yang terjadi pada masa remaja ialah :
1. Perubahan ukuran tubuh
Irama pertumbuhan mendadak menjadi cepat sekitar 2 tahun sebelum anak mencapai taraf pematangan kelaminnya. Anak laki – laki tumbuh terus lebih cepat daripada anak perempuan. Pertumbuhan anak laki – laki akan mencapai bentuk tubuh dewasa pada usia 19 sampai 20 tahun sedang anak perempuan pada usia 18 tahun.
2. Perubahan proporsi tubuh
Ciri tubuh yang kurang proporsional pada masa remaja ini tidak sama untuk seluruh tubuh, ada pula bagian tubuh yang semakin proporsional. Perubahan ini terjadi baik di dalam maupun di bagian luar tubuh anak.
Keanekaragaman perubahan proporsi tubuh
Walaupun tampak adanya keteraturan dan sebelumnya dalam hal perubahan proporsi tubuh, ternyata perubahan itu sendiri memperlihatkan keanekaragaman.
Remaja laki-laki cenderung menuju bentuk tubuh mesomorf ( cenderung menjadi anak yang kekar, berat, dan segitiga ), sedangkan anak perempuan kalau tidak endomorpf ( cenderung menjadi gemuk dan berat ) akan memperlihatkan ciri ektomorf ( cenderung kurus dan bertulang panjang ).
Seperti yang telah dikemukakan terlebih dahulu, selama masa remaja ini seluruh tubuh mengalami perubahan, baik dibagian luar maupun dibagian dalam tubuh, baik dalam struktur maupun dalam fungsinya.
Jadi,bila sistem endokrin berfungsi normal, maka akan memperlihatkan ukuran tubuh yang normal pula. Sebaliknya, bila anak mengalami kekurangan hormon pertumbuhannya, maka akan menjadi kecil seperti orang kerdil, sedangkan yang kelebihan hormon pertumbuhan akan tumbuh menjadi terlalu besar, sehingga tidak sesuai dengan anak yang sebayanya
3. Ciri Kelamin yang Utama
Pada masa kanak – kanak, alat kelamin yang utama masih belum berkembang dengan sempurna. Ketika memasuki masa remaja alat kelamin mulai berfungsi pada saat ia berumur 14 tahun, yaitu saat anak laki – laki mengalami “mimpi basah”. Sedangkan pada anak perempuan, indung telurnya mulai berfungsi pada usia 13 tahun, atau pertama kali mengalami menstruasi atau haid.
4. Ciri Kelamin Kedua
Yang dimaksud dengan ciri kelamin kedua pada anak perempuan adalah : membesarnya buah dada dan mencuatnya putting susu, pinggul melebar lebih lebar daripada lebar bahu, tumbuh rambut di sekitar alat kelamin, tumbuh rambut di ketiak, dan suara bertambah nyaring. Sedang cirri kelamin kedua tampak, bahu melebar lebih lebar daripada pinggul, nada suara membesar, tumbuh jakun, tumbuh bulu ketiak, bulu dada, dan bulu disekitar alat kelamin, serta perubahan jaringan kulit menjadi lebih kasar dan pori – pori membesar. Ciri – ciri kelamin kedua inilah yang membedakan bentuk fisik antara laki – laki dan perempuan.
Perubahan fisik sepanjang masa remaja meliputi dua hal, yaitu :
a) Percepatan Pertumbuhan dan
b) Proses Kematangan Seksual.
a) Percepatan Pertumbuhan
Perbedaan individual tentang pertumbuhan tampak dalam perbedaan awal percepatan dan cepatnya pertumbuhan.
1. Bagi remaja laki – laki permulaan percepatan pertumbuhan berbeda – beda dan berkisar antara 10,5 tahun dan 16 tahun.
2. Bagi remaja perempuan, percepatan pertumbuhan dimulai antara umur 7,5 tahun dan 11,5 tahun dengan umur rata – rata 10,5 tahun. Puncak pertambahan ukuran fisik dicapai pada umur 12 tahun yakni kurang lebih bertambah 6 – 11 cm setahun.
b) Proses Kematangan Seksual
Kematangan seksual anak-anak remaja berjalan secara individual, sehingga hanya mungkin untuk memberikan ukuran rata-rata dan penyebaran saja.
Ada tiga kriteria yang membedakan antara anak laki-laki daripada anak perempuan, yaitu dalam hal:
1. Kriteria kematangan seksual
2. Permulaan kematangan seksual, dan
3. Urutan gejala-gejala kematangan
1. Kriteria kematangan seksual
Kriteria kematangan seksual tampak lebih jelas pada ank perempuan daripada anak laki-laki. Menarche atau menstruasi pertama dipakai sebagai tanda permulaan pubertas.
Menarche merupakan ukuran yang baik karena hal itu menentukan salah satu ciri kematangan seksual yang pokok, yaitu disposisi untuk konsepsi (hamil) dan melahirkan.
2. Permulaan kematangan seksual
Permulaan kematngan seksual pada anak perempuan kira-kira 2 tahun lebih cepat daripada anak laki-laki. Menarche merupakan tanda permulaan kematangan seksual yang terjadi sekitar usia 13 tahun dengan penyebaran normal antara 10 - 16,5 tahun.
Pada anak laki-laki baru terjadi produksi spermatozoa hidup selama kira-kira satu tahun sesudah puncak percepatan perkembangan (kurang lebih umur 14 tahun).
3. Urutan gejala-gejala kematangan
Pada anak wanita kematangan dimulai denagn suatu tanda kelamin sekunder dengan tumbuhnya buah dada (payudara) yang tampak dan bagian putting susu yang sedikit mencuat. Pada anak laki-laki, kematangann seksual dimulai dengan pertumbuhan testis yang dimulai pada usia 9,5 tahun dan 13 tahun yang berakhir pada usia 13,5 – 17 tahun. Pada usia kurang lebih 15 -16 tahun, pada anak laki-laki maupun perempuan pangkal tenggorokannya mulai membesar yang menyebabkan pita suara menjadi lebih panjang.
Kondisi-kondisi lain yang mempengaruhi pertumbuhan fisik antara lain :
• Pengaruh keluarga
• Pengaruh gizi
• Gangguan emosional
• Jenis kelamin
• Status sosial ekonomi
• Kesehatan
• Pengaruh bentuk tubuh
Pengaruh fisik mempengaruhi perkembangan tingkah laku remaja, yang hal ini tampak pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri remaja, isolasi diri dari pergaulan, perilaku emosional seperti gelisah dan mudah tersinggung serta melawan kewenangan dan sebagainya.
Remaja yang banyak memeperhatikan kelompok sebaya perlu mendapatkan perhatian dari para pendidik dalam proses pendidikan. Kegiatan seperti dorongan untuk belajar kelompok, pembentukan olaharaga, kegiatan pramuka, dan pembiasaan hidup sehat perlu dikembangkan. Disekolah, kegiatan ekstrakulikuler dan kokurikuler perlu diselenggarakan secara terprogram.
B. Perkembangan Psikologis Remaja
a. Pembentukan Konsep diri
Remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak menuju dewasa. Secara psikologi, kedewasaan adalah keadaan berupa sudah ada ciri-ciri psikolgi tertentu pada seseorang. Ciri-ciri psikologi itu menurut G.W. Allport (1961, Bab VII) adalah sebagai berikut:
• Pemekaran diri sendiri (extension of the self), yang ditandai dengan kemampuan seseorang untuk menganggap orang atau hal lain sebagai bagian dari dirinya sendiri.
• Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara objektif (self objectivication) ditandai dengan kemampuan untuk mempunyai wawasan tentang diri sendiri dan kemampuan untuk menangkap humor termasuk yang menjadikan dirinya sebagai sasaran.
• Memeliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life)
Menurut G.W. Allport dalam bukunya yang sudah dikutip diatas (1961), yang tetap itulah dinamakan tarit. Trait adalah suatu sifat yang menentukan bagaimana orang yang bersangkutan akan bertingkah laku. Sifat ini selalu mewarnai tingkah laku orang yang bersangkutan terlepas dari situasi yang dihadapi orang tersebut.
Selanjutnya dikatakan oleh S.R. Maddi bahwa terdapat perbedaan antara trait dengan konstansi tingkah laku biasa. Trrait menunjuk kepada tingkah laku dalam skala besar dan majemuk yang menyangkut juga stuktur kognitif. Sementara itu, konsistensi tingkah laku hanya menunjuk pada tingkah laku dalam skala kecil dan tunggal.
Ditinjau dari teori psikoanalisis, “trait” ini terletak pada “ego” seseorang. Hal itu karena menurut teori ini ego-lah yang merupakan pusat adaptasi stimulus dari luar maupun dalam diri seseorang. Menurut Coppolillo, ego bertugas untuk menghambat atau menyalurkan stimulus, baik dari dalam maupun luar.
b. Perkembangan intelegensi
Intelegensi menurut David Wechsler (1985) didefinisikan sebagai “keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif”. Jadi intelegensi memenag mengandung unsur pikiran atau rasio. Ukuran intelegensi dinyatakan dalam IQ (intellegence Quotient).
Teori intelegensi yang meninjaunya dari sudut perkembangan dikemukakan oleh Jean Piaget (1896-1980). Piaget berpendapat bahwa setiap orang mempunyai system pengaturan dan berkembamg sesuai dengan perkembangan aspek-aspek kognitif.
Perkembangan aspek-aspek kognitif meliputi hal-hal berikut:
1. Kematangan yang berupa perkembangan susunan syaraf
2. Pengalaman yaitu hubungan timbal balik dengan lingkungan
3. Transmisi social yaitu hubungan timbal balik dengan lingkungan social
4. Ekuilibrasi yaitu system pengaturan dalam diri anak itu sendiri yang mampu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. (Gunarsa, 1982: 140-141)
Tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget adlah sebagai berikut :
1. Tahap I : Masa Sensori-Motor (0-2,5 tahun)
2. Tahap II : Masa Praoperasional (2,0-7,0 tahun)
3. Tahap III : Masa Konkret-Operasional (7,0-11,0 tahun)
4. Tahap IV : Masa Formal-Operasional (11,0-dewasa)
Ada kecendrungan pada sementara ahli untuk menggolongkan emosi berdasarkan pada jenis rangsangnya (Sarwono, 1986:53). Misalnya situasi berbahaya menimbulkan emosi takut, bunyi yang keras menimbulkan emosi yang terkejut, kegagalan menimbulkan emosi yang putus asa.
Penggolongan emosi yang seperti itu tentu banyak kelemahan. Hal itu karena suatu rangsang yang sama bisa menimbulkan emosi yang berbeda pada orang-orang yang berbeda pula.
W. Wundt (1832-1920) mengemukakan tiga pasang kutub emosi yaitu :
1. Lust-unlust (senang-tak senang)
2. Spannung-losung (tegang-tak tegang)
3.Erregung-beruhiung (semangat-tenang)
Terlepas dari banyaknya versi tentang defenisi, deskripsi, dan klasifikasi yang jelas, masa remaja adalah masa yang penuh emosi. Salah satu ciri periode “topan dan badai” dalam perkembangan jiwa manusia ini adalah adanya emosi yang meledak-ledak, sulit untuk dikendalikan.
Di satu pihak, emosi yang menggebu-gebu ini memang menyulitkan, terutama untuk orang lain (termasuk orang tua dan guru) dalam mengerti jiwa si remaja. Di pihak lain, emosi yang menggebu ini bermanfaat untuk remaja itu untuk terus mencari identitasnya sendiri.
Pengalaman menunjukkan bahwa remaja yang mendapat status sosial yang jelas dalam usia dini, tidak menampakkan gejolak emosi yang terlalu menonjol. Hal ini berbeda dengan rekan-rekannya yang harus menjalani masa transisi dalam tempo yang cukup panjang. Masalahnya adalah jika seorang remaja tidak berhasil mengatasi situasi-situasi kritis dalam rangka konflik peran karena terlalu mengikuti gejolak emosinya.
c. Perkembangan Peran Sosial
Gejolak emosi remaja dan masalah remaja lain pada umumnya disebabkan oleh adanya konflik peran sosial. Di satu pihak ia sudah ingin mandiri sebagai orang dewasa. Di lain pihak ia masih harus terus mengikuti kemauan orang tua. Rasa ketergantungan pada orang tua dikalangan anak-anak Indonesia lebih besar lagi, karena memang dikehendaki demikian orang tua.
Konflik peran yang dapat menimbulkan gejolak emosi dan kesulitan-kesulitan lain pada masa remaja dapat dikurangi. Hal itu dilakukan dengan memberi latihan-latihan agar anak dapat mandiri sedini mungkin. Dengan kemandiriannya, anak dapat memilih jalannya sendiri dan ia akan berkembang lebih mantap.
d. Perkembangan Peran Gender
Peran gender pada hakikatnya adalah bagian dari peran sosial pula. Sama halnya dengan anak yang harus mempelajari perannya sebagai anak terhadap orang tua atau sebagai murid terhadap guru. Dengan begitu, ia pun harus mempelajari perannya sebagai anak dari jenis kelamin tertentu terhadap jenis kelamin lawannya. Berbeda dengan anggapan awam, peran gender ini tidak hanya ditentukan oleh jenis kelamin orang yang bersangkutan, tetapi juga oleh lingkungan dan faktor-faktor lainnya. Tidak otomatis seorang anak laki-laki harus bermain mobil-mobilan dan robot-robotan, sedangkan anak perempuan bermain boneka dan rumah-rumahan. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak anak laki-laki tertarik pada boneka dan anak perempuan pada robot-robotan. Mereka akhirnya tetap menjadi orang dewasa pria atau wanita yang normal (tidak menjadi banci).
Ada empat macam manusia ditinjau dari pesan seksualnya, yaitu sebagai berikut :
1. Tipe maskulin, yaitu yang sifat kelaki-lakiannya di atas rata-rata, sifat kewanitaannya kurang dari rata-rata.
2. Tipe feminism, yaitu yang sifat kewanitaannya di atas rata-rata, sifat kelaki-lakiannya kurang dari rata-rat.
3. Tipe androgin, yaitu yang sifat kelaki-lakian maupun kewanitaannya diatas rata-rata.
4. Tipe tidak tergolongkan (undifferentiated), yaitu yang sifat kelaki-lakian maupun kewanitaannya di bawah rata-rata. (Wrightsman,1981:445)
e. Perkembangan Moral dan Religi
Moral dan religi merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Religi yaitu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam semesta ini adalah sebgaian dari moral. Hal itu karena, dalam moral sebenarnya diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, serta perbuatan yang dinilai tidak baik sehingga perlu dihindari. Agama, oleh karena mengatur juga tingkah laku baik-buruk, secara psikologis termasuk dalam moral. Hal lain yang termasuk dalam moral adalah sopan-santun, tata karma, dan norma-norma masyarakat lain.
Menurut aliran psikoanalisis, orang-orang yang tidak mempunyai hubungan yang harmonis dengan orang tuanya di masa kecil, kemungkinan besar tidak akan mengembangkan super-ego yang cukup kuat. Dengan demikian, mereka bisa menjadi orang yang sering melanggar norma masyarakat.
Teori-teori lain yang nonpsikoanalisis beranggapan bahwa hubungan anak-orang tua bukan satu-satunya sarana pembentuk moral. Para sosiolog, misalnya beranggapan bahwa masyarakat sendiri punya peran penting dalam pembentukan moral. W.G. Summer (1907), salah seorang sosiolog, berpendapat bahwa tingkah laku manusia yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri. Kontrol masyarakat itu adalah sebagai berikut :
1. Folkways, yaitu tingkah laku yang lazim, misalnya makan dengan tangan kanan, bekerja atau bersekolah, dan sebagainya.
2. Mores, yaitu tingkah laku yang sebaiknya dilakukan, misalnya : mengucapkan terima kasih atas jasa seseorang, atau memberikan salam pada waktu berjumpa.
3. Law (hukum), yaitu tingkah laku yang harus dilakukan atau dihindari : misalnya tidak boleh mencuri, harus membayar utang, dan lain-lain.
Untuk remaja, mores atau moral merupakan suatu kebutuhan tersendiri. Hal itu karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri. Pedoman atau petunjuk ini dibutuhkan juga untuk menumbuhkan identitas dirinya, menuju kepribadian matang.
Di Indonesia, salah satu mores yang penting adalah agama. Agama menjadi salah satu faktor pengendali tingkah laku remaja, karena agama memang mewarnai kehidupan masyarakat setiap hari. Tidak saja dalam peringatan hari-hari besar agama atau upacara-upacara pada peristiwa-peristiwa khusus (kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, dan lain-lain), tetapi juga dalam tingkah laku biasa seperti memberi salam waktu berjumpa atau mengawali pidato sambutan.
Kohlberg selanjutnya membagi perkembangan moral dalam tiga tahap. Masing-masing tahap dibagi lagi dalam dua tingkatan yaitu :
1. Tahap I (tingkat 1 dan 2) : tahap prakonvensional
2. Tahap II (tingkat 3 dan 4) : tahap konvensional
3. Tahap III (tingkat 5 dan 6) : tahap pasca konvensional (Lickona, 1975 :32-33)
KESIMPULAN
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan-perubahan ini meliputi : perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri kelamin yang utama (primer) dan ciri kelamin kedua (sekunder).
Kedewasaan secara psikologi adalah keadaan berupa sudah ada ciri-ciri psikologi tertentu pada seseorang. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pemekaran diri sendiri (extension of the self)
2. Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara objektif (self objectivication)
3. Memiliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life)
Pertumbuhan fisik mempengaruhi perkembangan tingkah laku remaja, yang hal ini tampak pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri remaja, isolasi diri dari pergaulan, perilaku emosional seperti gelisah dan mudah tersinggung serta melawan kewenangan, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. 1989, Psikologi Remaja, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Prof. Dr. H. Sunarto, dkk. 2006. Perkembangan Peserta didik. Rineka Cipta. Jakarta.
Perkembangan Peserta didik Dra. Titi Hastuty. M. Pd
TUGAS KELOMPOK 3
PERTUMBUHAN FISIK DAN PSIKIS SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAH LAKU REMAJA
Di susun oleh :
1. DINA HANDANIA
2. NOVIARATIH PARADISA. S
3. REFNI SRI YANTI. M
4. SILVI SARINASTITI
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
2009/2010
DAFTAR ISI
Hal
DAFTAR ISI……………………………………………………………..2
PERTUMBUHAN FISIK DAN PSIKIS SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAH LAKU REMAJA…………………………………………….3
A. Pertumbuhan Fisik Remaja…………………………………….....3
a. Percepatan Pertumbuhan……………………………………….....5
b. Proses Kematangan Seksual……………………………………...5
B. Perkembangan Psikologis Remaja……………………………......7
a. Pembentukan Konsep diri……………………………………...…7
b. Perkembangan Intelegensi………………………………………..8
c. Perkembangan Peran Sosial………………………………………9
d. Perkembangan Peran Gender……………………………………10
e. Perkembangan Moral dan Religi………………………………...10
KESIMPULAN…………………………………………………………..12
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………13
PERTUMBUHAN FISIK DAN PSIKIS SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAH LAKU REMAJA
A. Pertumbuhan Fisik Remaja
Pertumbuhan fisik adalah perubahan – perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan – perubahan ini meliputi ; perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri – ciri kelamin yang utama ( primer ) dan cirri kelamin kedua ( sekunder ).
Menurut Muss yang dikutip oleh Sarlito Wirawan ( Sarlito , 1991; 51 ) Urutan perubahan – perubahan fisik adalah sebagai berikut :
Pada anak perempuan :
1. Petumbuhan tulang – tulang (badan menjadi tinggi, anggota – anggota badan menjadi panjang).
2. Pertumbuhan payudara
3. Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kemaluan.
4. Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap tahunnya.
5. Bulu kemaluan menjadi keriting.
6. Menstruasi atau haid
7. Tumbuh bulu – bulu ketiak.
Pada anak laki – laki :
1. Pertumbuhan tulang – tulang
2. Testis ( buah pelir ) membesar
3. Tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap.
4. Awal perubahan suara.
5. Ejakulasi ( keluarnya air mani ).
6. Bulu kemaluan menjadi keriting.
7. Pertumbuhan tinggi badan mencapai tinggi maksimum setiap tahunnya.
8. Tumbuh rambut – rambut halus di wajah ( kumis, jenggot ).
9. Tumbuh bulu ketiak.
10. Akhir perubahan suara.
11. Rambut – rambut di wajah bertambah tebal dan gelap.
12. Tumbuh bulu di dada.
Penyebab perubahan
Penyebab perubahan pada masa remaja adalah adanya dua kelenjer yang menjadi aktif bekerja dalam system endokrin. Kelenjer pituitary yang terletak di dasar otak mengeluarkan dua macam hormon. Kedua hormon itu adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh dan hormon gonadotropik atau sering disebut hormon yang merangsang gonad – yaitu merangsang gonad agar mulai aktif bekerja.
Adapun perubahan – perubahan fisik yang penting dan yang terjadi pada masa remaja ialah :
1. Perubahan ukuran tubuh
Irama pertumbuhan mendadak menjadi cepat sekitar 2 tahun sebelum anak mencapai taraf pematangan kelaminnya. Anak laki – laki tumbuh terus lebih cepat daripada anak perempuan. Pertumbuhan anak laki – laki akan mencapai bentuk tubuh dewasa pada usia 19 sampai 20 tahun sedang anak perempuan pada usia 18 tahun.
2. Perubahan proporsi tubuh
Ciri tubuh yang kurang proporsional pada masa remaja ini tidak sama untuk seluruh tubuh, ada pula bagian tubuh yang semakin proporsional. Perubahan ini terjadi baik di dalam maupun di bagian luar tubuh anak.
Keanekaragaman perubahan proporsi tubuh
Walaupun tampak adanya keteraturan dan sebelumnya dalam hal perubahan proporsi tubuh, ternyata perubahan itu sendiri memperlihatkan keanekaragaman.
Remaja laki-laki cenderung menuju bentuk tubuh mesomorf ( cenderung menjadi anak yang kekar, berat, dan segitiga ), sedangkan anak perempuan kalau tidak endomorpf ( cenderung menjadi gemuk dan berat ) akan memperlihatkan ciri ektomorf ( cenderung kurus dan bertulang panjang ).
Seperti yang telah dikemukakan terlebih dahulu, selama masa remaja ini seluruh tubuh mengalami perubahan, baik dibagian luar maupun dibagian dalam tubuh, baik dalam struktur maupun dalam fungsinya.
Jadi,bila sistem endokrin berfungsi normal, maka akan memperlihatkan ukuran tubuh yang normal pula. Sebaliknya, bila anak mengalami kekurangan hormon pertumbuhannya, maka akan menjadi kecil seperti orang kerdil, sedangkan yang kelebihan hormon pertumbuhan akan tumbuh menjadi terlalu besar, sehingga tidak sesuai dengan anak yang sebayanya
3. Ciri Kelamin yang Utama
Pada masa kanak – kanak, alat kelamin yang utama masih belum berkembang dengan sempurna. Ketika memasuki masa remaja alat kelamin mulai berfungsi pada saat ia berumur 14 tahun, yaitu saat anak laki – laki mengalami “mimpi basah”. Sedangkan pada anak perempuan, indung telurnya mulai berfungsi pada usia 13 tahun, atau pertama kali mengalami menstruasi atau haid.
4. Ciri Kelamin Kedua
Yang dimaksud dengan ciri kelamin kedua pada anak perempuan adalah : membesarnya buah dada dan mencuatnya putting susu, pinggul melebar lebih lebar daripada lebar bahu, tumbuh rambut di sekitar alat kelamin, tumbuh rambut di ketiak, dan suara bertambah nyaring. Sedang cirri kelamin kedua tampak, bahu melebar lebih lebar daripada pinggul, nada suara membesar, tumbuh jakun, tumbuh bulu ketiak, bulu dada, dan bulu disekitar alat kelamin, serta perubahan jaringan kulit menjadi lebih kasar dan pori – pori membesar. Ciri – ciri kelamin kedua inilah yang membedakan bentuk fisik antara laki – laki dan perempuan.
Perubahan fisik sepanjang masa remaja meliputi dua hal, yaitu :
a) Percepatan Pertumbuhan dan
b) Proses Kematangan Seksual.
a) Percepatan Pertumbuhan
Perbedaan individual tentang pertumbuhan tampak dalam perbedaan awal percepatan dan cepatnya pertumbuhan.
1. Bagi remaja laki – laki permulaan percepatan pertumbuhan berbeda – beda dan berkisar antara 10,5 tahun dan 16 tahun.
2. Bagi remaja perempuan, percepatan pertumbuhan dimulai antara umur 7,5 tahun dan 11,5 tahun dengan umur rata – rata 10,5 tahun. Puncak pertambahan ukuran fisik dicapai pada umur 12 tahun yakni kurang lebih bertambah 6 – 11 cm setahun.
b) Proses Kematangan Seksual
Kematangan seksual anak-anak remaja berjalan secara individual, sehingga hanya mungkin untuk memberikan ukuran rata-rata dan penyebaran saja.
Ada tiga kriteria yang membedakan antara anak laki-laki daripada anak perempuan, yaitu dalam hal:
1. Kriteria kematangan seksual
2. Permulaan kematangan seksual, dan
3. Urutan gejala-gejala kematangan
1. Kriteria kematangan seksual
Kriteria kematangan seksual tampak lebih jelas pada ank perempuan daripada anak laki-laki. Menarche atau menstruasi pertama dipakai sebagai tanda permulaan pubertas.
Menarche merupakan ukuran yang baik karena hal itu menentukan salah satu ciri kematangan seksual yang pokok, yaitu disposisi untuk konsepsi (hamil) dan melahirkan.
2. Permulaan kematangan seksual
Permulaan kematngan seksual pada anak perempuan kira-kira 2 tahun lebih cepat daripada anak laki-laki. Menarche merupakan tanda permulaan kematangan seksual yang terjadi sekitar usia 13 tahun dengan penyebaran normal antara 10 - 16,5 tahun.
Pada anak laki-laki baru terjadi produksi spermatozoa hidup selama kira-kira satu tahun sesudah puncak percepatan perkembangan (kurang lebih umur 14 tahun).
3. Urutan gejala-gejala kematangan
Pada anak wanita kematangan dimulai denagn suatu tanda kelamin sekunder dengan tumbuhnya buah dada (payudara) yang tampak dan bagian putting susu yang sedikit mencuat. Pada anak laki-laki, kematangann seksual dimulai dengan pertumbuhan testis yang dimulai pada usia 9,5 tahun dan 13 tahun yang berakhir pada usia 13,5 – 17 tahun. Pada usia kurang lebih 15 -16 tahun, pada anak laki-laki maupun perempuan pangkal tenggorokannya mulai membesar yang menyebabkan pita suara menjadi lebih panjang.
Kondisi-kondisi lain yang mempengaruhi pertumbuhan fisik antara lain :
• Pengaruh keluarga
• Pengaruh gizi
• Gangguan emosional
• Jenis kelamin
• Status sosial ekonomi
• Kesehatan
• Pengaruh bentuk tubuh
Pengaruh fisik mempengaruhi perkembangan tingkah laku remaja, yang hal ini tampak pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri remaja, isolasi diri dari pergaulan, perilaku emosional seperti gelisah dan mudah tersinggung serta melawan kewenangan dan sebagainya.
Remaja yang banyak memeperhatikan kelompok sebaya perlu mendapatkan perhatian dari para pendidik dalam proses pendidikan. Kegiatan seperti dorongan untuk belajar kelompok, pembentukan olaharaga, kegiatan pramuka, dan pembiasaan hidup sehat perlu dikembangkan. Disekolah, kegiatan ekstrakulikuler dan kokurikuler perlu diselenggarakan secara terprogram.
B. Perkembangan Psikologis Remaja
a. Pembentukan Konsep diri
Remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak menuju dewasa. Secara psikologi, kedewasaan adalah keadaan berupa sudah ada ciri-ciri psikolgi tertentu pada seseorang. Ciri-ciri psikologi itu menurut G.W. Allport (1961, Bab VII) adalah sebagai berikut:
• Pemekaran diri sendiri (extension of the self), yang ditandai dengan kemampuan seseorang untuk menganggap orang atau hal lain sebagai bagian dari dirinya sendiri.
• Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara objektif (self objectivication) ditandai dengan kemampuan untuk mempunyai wawasan tentang diri sendiri dan kemampuan untuk menangkap humor termasuk yang menjadikan dirinya sebagai sasaran.
• Memeliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life)
Menurut G.W. Allport dalam bukunya yang sudah dikutip diatas (1961), yang tetap itulah dinamakan tarit. Trait adalah suatu sifat yang menentukan bagaimana orang yang bersangkutan akan bertingkah laku. Sifat ini selalu mewarnai tingkah laku orang yang bersangkutan terlepas dari situasi yang dihadapi orang tersebut.
Selanjutnya dikatakan oleh S.R. Maddi bahwa terdapat perbedaan antara trait dengan konstansi tingkah laku biasa. Trrait menunjuk kepada tingkah laku dalam skala besar dan majemuk yang menyangkut juga stuktur kognitif. Sementara itu, konsistensi tingkah laku hanya menunjuk pada tingkah laku dalam skala kecil dan tunggal.
Ditinjau dari teori psikoanalisis, “trait” ini terletak pada “ego” seseorang. Hal itu karena menurut teori ini ego-lah yang merupakan pusat adaptasi stimulus dari luar maupun dalam diri seseorang. Menurut Coppolillo, ego bertugas untuk menghambat atau menyalurkan stimulus, baik dari dalam maupun luar.
b. Perkembangan intelegensi
Intelegensi menurut David Wechsler (1985) didefinisikan sebagai “keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif”. Jadi intelegensi memenag mengandung unsur pikiran atau rasio. Ukuran intelegensi dinyatakan dalam IQ (intellegence Quotient).
Teori intelegensi yang meninjaunya dari sudut perkembangan dikemukakan oleh Jean Piaget (1896-1980). Piaget berpendapat bahwa setiap orang mempunyai system pengaturan dan berkembamg sesuai dengan perkembangan aspek-aspek kognitif.
Perkembangan aspek-aspek kognitif meliputi hal-hal berikut:
1. Kematangan yang berupa perkembangan susunan syaraf
2. Pengalaman yaitu hubungan timbal balik dengan lingkungan
3. Transmisi social yaitu hubungan timbal balik dengan lingkungan social
4. Ekuilibrasi yaitu system pengaturan dalam diri anak itu sendiri yang mampu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. (Gunarsa, 1982: 140-141)
Tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget adlah sebagai berikut :
1. Tahap I : Masa Sensori-Motor (0-2,5 tahun)
2. Tahap II : Masa Praoperasional (2,0-7,0 tahun)
3. Tahap III : Masa Konkret-Operasional (7,0-11,0 tahun)
4. Tahap IV : Masa Formal-Operasional (11,0-dewasa)
Ada kecendrungan pada sementara ahli untuk menggolongkan emosi berdasarkan pada jenis rangsangnya (Sarwono, 1986:53). Misalnya situasi berbahaya menimbulkan emosi takut, bunyi yang keras menimbulkan emosi yang terkejut, kegagalan menimbulkan emosi yang putus asa.
Penggolongan emosi yang seperti itu tentu banyak kelemahan. Hal itu karena suatu rangsang yang sama bisa menimbulkan emosi yang berbeda pada orang-orang yang berbeda pula.
W. Wundt (1832-1920) mengemukakan tiga pasang kutub emosi yaitu :
1. Lust-unlust (senang-tak senang)
2. Spannung-losung (tegang-tak tegang)
3.Erregung-beruhiung (semangat-tenang)
Terlepas dari banyaknya versi tentang defenisi, deskripsi, dan klasifikasi yang jelas, masa remaja adalah masa yang penuh emosi. Salah satu ciri periode “topan dan badai” dalam perkembangan jiwa manusia ini adalah adanya emosi yang meledak-ledak, sulit untuk dikendalikan.
Di satu pihak, emosi yang menggebu-gebu ini memang menyulitkan, terutama untuk orang lain (termasuk orang tua dan guru) dalam mengerti jiwa si remaja. Di pihak lain, emosi yang menggebu ini bermanfaat untuk remaja itu untuk terus mencari identitasnya sendiri.
Pengalaman menunjukkan bahwa remaja yang mendapat status sosial yang jelas dalam usia dini, tidak menampakkan gejolak emosi yang terlalu menonjol. Hal ini berbeda dengan rekan-rekannya yang harus menjalani masa transisi dalam tempo yang cukup panjang. Masalahnya adalah jika seorang remaja tidak berhasil mengatasi situasi-situasi kritis dalam rangka konflik peran karena terlalu mengikuti gejolak emosinya.
c. Perkembangan Peran Sosial
Gejolak emosi remaja dan masalah remaja lain pada umumnya disebabkan oleh adanya konflik peran sosial. Di satu pihak ia sudah ingin mandiri sebagai orang dewasa. Di lain pihak ia masih harus terus mengikuti kemauan orang tua. Rasa ketergantungan pada orang tua dikalangan anak-anak Indonesia lebih besar lagi, karena memang dikehendaki demikian orang tua.
Konflik peran yang dapat menimbulkan gejolak emosi dan kesulitan-kesulitan lain pada masa remaja dapat dikurangi. Hal itu dilakukan dengan memberi latihan-latihan agar anak dapat mandiri sedini mungkin. Dengan kemandiriannya, anak dapat memilih jalannya sendiri dan ia akan berkembang lebih mantap.
d. Perkembangan Peran Gender
Peran gender pada hakikatnya adalah bagian dari peran sosial pula. Sama halnya dengan anak yang harus mempelajari perannya sebagai anak terhadap orang tua atau sebagai murid terhadap guru. Dengan begitu, ia pun harus mempelajari perannya sebagai anak dari jenis kelamin tertentu terhadap jenis kelamin lawannya. Berbeda dengan anggapan awam, peran gender ini tidak hanya ditentukan oleh jenis kelamin orang yang bersangkutan, tetapi juga oleh lingkungan dan faktor-faktor lainnya. Tidak otomatis seorang anak laki-laki harus bermain mobil-mobilan dan robot-robotan, sedangkan anak perempuan bermain boneka dan rumah-rumahan. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak anak laki-laki tertarik pada boneka dan anak perempuan pada robot-robotan. Mereka akhirnya tetap menjadi orang dewasa pria atau wanita yang normal (tidak menjadi banci).
Ada empat macam manusia ditinjau dari pesan seksualnya, yaitu sebagai berikut :
1. Tipe maskulin, yaitu yang sifat kelaki-lakiannya di atas rata-rata, sifat kewanitaannya kurang dari rata-rata.
2. Tipe feminism, yaitu yang sifat kewanitaannya di atas rata-rata, sifat kelaki-lakiannya kurang dari rata-rat.
3. Tipe androgin, yaitu yang sifat kelaki-lakian maupun kewanitaannya diatas rata-rata.
4. Tipe tidak tergolongkan (undifferentiated), yaitu yang sifat kelaki-lakian maupun kewanitaannya di bawah rata-rata. (Wrightsman,1981:445)
e. Perkembangan Moral dan Religi
Moral dan religi merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Religi yaitu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam semesta ini adalah sebgaian dari moral. Hal itu karena, dalam moral sebenarnya diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, serta perbuatan yang dinilai tidak baik sehingga perlu dihindari. Agama, oleh karena mengatur juga tingkah laku baik-buruk, secara psikologis termasuk dalam moral. Hal lain yang termasuk dalam moral adalah sopan-santun, tata karma, dan norma-norma masyarakat lain.
Menurut aliran psikoanalisis, orang-orang yang tidak mempunyai hubungan yang harmonis dengan orang tuanya di masa kecil, kemungkinan besar tidak akan mengembangkan super-ego yang cukup kuat. Dengan demikian, mereka bisa menjadi orang yang sering melanggar norma masyarakat.
Teori-teori lain yang nonpsikoanalisis beranggapan bahwa hubungan anak-orang tua bukan satu-satunya sarana pembentuk moral. Para sosiolog, misalnya beranggapan bahwa masyarakat sendiri punya peran penting dalam pembentukan moral. W.G. Summer (1907), salah seorang sosiolog, berpendapat bahwa tingkah laku manusia yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri. Kontrol masyarakat itu adalah sebagai berikut :
1. Folkways, yaitu tingkah laku yang lazim, misalnya makan dengan tangan kanan, bekerja atau bersekolah, dan sebagainya.
2. Mores, yaitu tingkah laku yang sebaiknya dilakukan, misalnya : mengucapkan terima kasih atas jasa seseorang, atau memberikan salam pada waktu berjumpa.
3. Law (hukum), yaitu tingkah laku yang harus dilakukan atau dihindari : misalnya tidak boleh mencuri, harus membayar utang, dan lain-lain.
Untuk remaja, mores atau moral merupakan suatu kebutuhan tersendiri. Hal itu karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri. Pedoman atau petunjuk ini dibutuhkan juga untuk menumbuhkan identitas dirinya, menuju kepribadian matang.
Di Indonesia, salah satu mores yang penting adalah agama. Agama menjadi salah satu faktor pengendali tingkah laku remaja, karena agama memang mewarnai kehidupan masyarakat setiap hari. Tidak saja dalam peringatan hari-hari besar agama atau upacara-upacara pada peristiwa-peristiwa khusus (kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, dan lain-lain), tetapi juga dalam tingkah laku biasa seperti memberi salam waktu berjumpa atau mengawali pidato sambutan.
Kohlberg selanjutnya membagi perkembangan moral dalam tiga tahap. Masing-masing tahap dibagi lagi dalam dua tingkatan yaitu :
1. Tahap I (tingkat 1 dan 2) : tahap prakonvensional
2. Tahap II (tingkat 3 dan 4) : tahap konvensional
3. Tahap III (tingkat 5 dan 6) : tahap pasca konvensional (Lickona, 1975 :32-33)
KESIMPULAN
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan-perubahan ini meliputi : perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri kelamin yang utama (primer) dan ciri kelamin kedua (sekunder).
Kedewasaan secara psikologi adalah keadaan berupa sudah ada ciri-ciri psikologi tertentu pada seseorang. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pemekaran diri sendiri (extension of the self)
2. Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara objektif (self objectivication)
3. Memiliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life)
Pertumbuhan fisik mempengaruhi perkembangan tingkah laku remaja, yang hal ini tampak pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri remaja, isolasi diri dari pergaulan, perilaku emosional seperti gelisah dan mudah tersinggung serta melawan kewenangan, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. 1989, Psikologi Remaja, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Prof. Dr. H. Sunarto, dkk. 2006. Perkembangan Peserta didik. Rineka Cipta. Jakarta.