Post Reply 
tugas kelompok
12-30-2009, 08:41 AM
Post: #1
tugas kelompok

kelompok 10.
1. Witri masri
2. Fitria Sari
3. Sarkesi yunita
4. Reni sastri yarti

KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi karunia dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Belajar Dan Pembelajaran dengan judul “Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap”.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapakan terimakasih kepada teman- teman yang telah membantu baik moril, tenaga, dan pikiran dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis men
yadari bahwa dalam penulisan maupun isi dari makalah ini masih banyak terdapat kesalahan , untuk itu kritik maupun saran dari pembaca sangat diharapkan, agar makalah ini menjadi lebih baik untuk masa yang akan datang.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.


Pekanbaru, 12 Oktober 2009



Penulis







Bab II

Pembahasan
2.1 Perkembangn nilai, moral, dan siap.
2.1.1 pengertian dan saling keterkaitan antara nilai, mral, dan sikap serta pengaruhnya terhadap tingkah laku.
Pengaruh terhadap tingkah laku
Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang eraku dalam masyarakat, misalnya adapt kebiasaan dan sopan santun(sutikna, 1988:5). Sopan santun, adapt, dan kebiasaan serta nlai-nilai yang terkandun dalam pancasila adalah nilai-nilai hidupyang menjadi pegangan seorang dalam kedudukannya sebagai warga Negara Indonesia dalam hubungan hidupna deng Negara serta dengan sesama warga Negara.
Nilai-nilai yang terkandung dalam pancaila yang termasuk dalam sila kemanusiaan yang adil danberadap, antara lain :
1. mengakuai persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesame manusia.
2. megembangkan sikap tenggang rasa, dan
3. tidak semena-mena kepada orang lain, berani membela kebenaran dan keadilan, dan sebagainya.
Bagaimana kaitannya antara nilai-nilai dan moral ?
Moral adala ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, ahlak dan sebagainya (purwa darminto, 1957:957). Nilai-nilai kehidupan sebagai norma dalam masyarakat senantiasa menyangkut persoalan antara baik dan buruk, jadi berkaitan dengan moral.

2.1.2 karekteristik nilai, moral, dan sikap remaja.
Nilai-nilai kehidupan yang perlu di informasikan dan selajudnya dihayati oleh para remaja tidak terbatas pada adat kebiasaan dan sopan santun saja, namun juga seperangkat nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, minsalnya nilai-nlai keagamaan, nilai-nilai perikemanusiaan dan perikeadilan.
Salah satu, perkemangan yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok dari padanya dan kemudian dan bersedia membentuk perilaku agar sesuai dengan harapan sosial/masyarakat tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hkman seperti yang dialami diwaktu anak-anak.
Lima perubaan dasar dalam moral yang terus dilakukan oleh remaja (urlock ahlih bahasa isiwidayanti dan kawan-kawan, 1980 :225), sebagai berikut.
1. pandangan moral indivdu makin lama makin menjadi lebih abstrak.
2. keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Kemudian muncul sebagai kekuatan moral yang dominant.
3. penilaian moral menjadi semakin kognitif. Hal ini mendorong remaja lebih berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.
4. penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5. penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan emosi.

Menurut Furter (1965) dalam Monks, 1984:252), kehidupan moral merupakan problematik yang pokok dalam masa remaja. Ada tiga tindakan perkembang moral menurut Kohlberg, yaitu tingkat :
a. prakonvensional
b. konversional
c. post-konversional
tingkat I : prokenvnsional, yang terdiri dari satadium 1 dan 2
pada stadium 1, anak berorientasi kepada kepatuhan dan hukuman. Anak baik atau buruk atas dasar akibat yang ditimbulkan.
Pada stadium 2, berlaku sikap relativistic-hedonism. Relativisik ini artiny bergantung pada kebutuhan dan kesanggupan seseorang (hedonistic). Misalnya mencuri ayam karena kelaparan.

Tinkat II : konvensional
Stadium 3 : menyangkut orientasi mengenai anak yang baik. Anak mulai memasuki umur belasan tahun, anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain. Masyarakat adalah sumber yang menentukan, apakah perbuatan seseorang baik atau tidak.
Stadium 4 : yaitu terhadap mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. Jadi perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan-aturan yang ada, agar tidak timbul kekacauan.

Tingkat III : pasca-konnvensional.
Stadium 5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Originalitas remaja tampak dalam hal ini. Pertama remaja masih mau diatur secara ketat oleh hukum-hukum umum yang lebih tinggi.
Stadim 6, thap ini disebut prinsip universal.Menurut Furter (1965), menjadi remaja berarti mengerti nilai-nilai (monk’s, 1984:257). Mengerti nilai-nilai tidak berarti hanya memperole pengertian saja melainkan juga dapat menjalankannya / mengamalkannya.
2.1.3. factor-faktor yang mempengaruhi nilai, moral dan sikap
didalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tentu ternyata banyak factor lingkungan memegang peranan penting. Diantaranya segala unsur lingkungan sosial yang berpengaruh, yang tampak sangat penting adalah unsur lingkungan bentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nlai tertentu dalam hal ini lingkungan sosial terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan pembina.
2.1.4 Perbedaan Individual dalam Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap
Pengertian moral dan nilai pada anak-anak ujur sepuluh atau sebelas tahun berbeda dengan anak-anak yang lebih tua. Pada anak-anak ada anggapan bahwa aturan-aturan adalah pasti dan mutlak oleh karena itu diberikan kepda orang dewasa atau Tuhan yang tidak bisa di ubah lagi (Kohlberg, 1963). Pengertian mengenal aspek moral pada anak-anak lebih besar, lebih lentur, dan nisbi. Menurut Kohlberg, factor kebudayaan mempengaruhi perkembangan oral, terdapat berbabai rangsangan yang diterima oleh anak-anak dan ini mempengaruhi tempo perkembangan moral.
2.1.5 Upaya Mengembangkan Nilai, Moral, Dan Sikap Remaja Serta Implikasinya Dalam Perkembangan Pendidikan
adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral da sikap remaja adalah:
a. Menciptakan komunikasi
dalam komunidasi didahului dengan pemberian informasi tentang
nilai-nilai dan moral. Anak tidak pasif mendengarkan dari orang dewasa bagaimana seseorang harus beringkah laku sesuai dengan norma dan nilai-nilai moral, tetapi anak-anak arus dirangsang supaya lebih aktif.
Disekolah para remaja hendaknya diberi kesempatan berpartisipasi untuk mengembangkan aspek moral misalnya dalam bekerja kelompol, sehingga dia belajar tidak melakukan sesuatu yang akan merugikan orang lain.
b. Menciptakan iklim lingkungan yang serasi
factor-faktor lingkungan itu sendiri merupakan penjelmaan yang konkrit dari nilai-nilai hidup tersebut. Karena lingkungan merupakan factor yag cukup luas dan sangat bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sosial terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan pembina yaitu orang tua dan guru.
Untuk remaja, moral merupakan suatu kebuthan tersendiri oleh karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri.


2.2 Perkembangan Moral dan Religi
moral dan religi merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Sebagian orang berpendapat bahwa moral dan religi bisa mengendalikan tingkah laku anak yan beranjak dewasa ini. Dengan begitu, ia tidak melakukan hal-hal yang merugikan atau bertentangan dengan kehendak atau pendangan masyarakat.
Relegi, yaitu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam semesta ini adalah bagian dari moral. Karena dalam moral sebenarnya diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, serta perbuatan yang dinilai tidak baik seginga perlu dihindari. Agama, karena mengatur juga tingkah laku baik-buruk, secara psikologis termasuk dalam moral. Hal ini yang termasuk dalam moral adalah sopan-santun, tata karma, dan norma-norma masyarakat lain.
Menurut aliran psikoanalisis, orang-orang yang tidak mempunyai hubungan yang hamonis dengan orang tuanya di masa kecil, kemungkinan besar tidak akan mengembangkan sikap super-ego yang cukup kuat. Akan tetapi, teori-teori lain yang nonpsikoanalisis beranggapan bahwa hubungan anak-orang tua bukan satu-satunya saran pembentuk moral. Para sosiologi misalnya, berangagpan bahwa masyarakat sendiri punya peran penting dalam pembentukan moral. W.G. Summer (1907), salah seorang sosiologi, berpedapat bahwa tingkah laku manusia yang terkendali disebabkan oleh adanya control dari masyarakat itu sendiri. Control masyarakat itu adalah sebagai berikut:
1. Folkways, yaitu tingkah laku yang lazim, misalnya makan dengan tangan kanan.
2. Mores, yaitu tingkah laku yang sebaiknya dilakukan, misalnya mengucapkan terima kasih atas jasa seseorang.
3. Law (hukum), yaitu tingkah laku yang harus dilakukan atau dihindari, misalnya tidak boleh mencuri.
Mores adalah merupakan dasar moral yang menjadi tolak ukur dalam menilai seseorang. Untuk remaja, mores atau moral merupakan suatu kebutuhan. Di Indonesia, salah satu mores yang penting adalah agama seperti akan diuraikan dalam bab akan datang (khususnya Bab IV), agama dapat menjadi salah satu factor pengendali tingkah laku remaja. Hal ini dapat dimengerti karena agama memang mewarnai kehidupan masyarakat setiap hari.
Di pihak lain ada remaja yang menganggap agama sebagai kult (diambil dari kata “kultus”, karena sangat memuja pribadi pemimpinnya) ciri-ciri kult yang membedakannya dengan agama adalah sebagai berikuta:
1. Menghambat pemikiran-pemikiran yang mandiri.
2. Menuntut kesetiaan penuh terhadap alirannya.
3. dengan kesetiaan penuh itu, jika perlu anggota keluarga ditinggalkan atau diabaikan begitu saja.
4. Melakukan upacara yang bertele-tele.
5. Merahasiakan identitasnya dalam mencari dana maupun anggota-anggota beru.
6. Menggunakan teknik menakut-nakuti untuk mengendalikan pengikut-pengikutnya (Adam & Gullotta, 1983:373).
Kohlberg selanjutnya membagi perkembangan moral dalam tiga tahap. Masing-masing dibagi lagi dalam dua tingkatan.
a. Tahap I (tingkat 1 dan 2) : tahap prakonvensional.
b. Tahap II (tingkat 3 dan 4) : tahap konvensional.
c. Tahap III (tingkat 5 dan 6) : tahap pasca konvensional. (Lickona, 1975: 32-33).
Konvensional berarti setuju pada aturan dan harpan masyarakat dan penguasa, hanya karena memang sudah demikianlah keadaannya.


PENUTUP
3.1 Kesimpulan
kita sama-sama mengetahui bahwa nilai-nilai, moral, sikap dan religi sangat penting dalam kehidupan masyarakat atau prinsip-prinsip hidup yang menjadi pegangan seseorang dalam hidupnya, baik pribadi maupun untuk warga Negara yang lainnya. Maka untuk mengembangkan nilai, moral dan sikap tersebut dalam diri remaja yang diselenggarakan dalam pendidikan dikenakan upaya-upaya seperti:
1. Menciptakan komunikasi yang baik antar sesame uamt manusia.
2. Menciptakan iklum lingkungan yang serasi.
3.2 Saran
Kita harus mengetahui nilai moral, sikap dan religi remaja karena dengan mengetahui itu semua maka akan terbentuk sikap atau tingkah laku yang baik dan dapat diwujudkan atau dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah hasil makalah kami dalam menjelaskan nilai, moral, sikap dan religi remaja semoga bisa menambah alam pengembangan dan pemahaman seoarng ramaja supaya bisa membangun lingkungan yang sejahtera dan damai.

witri masri, telah menjadi anggota Komunitas Key She sejak Dec 2009
Visit this user's website Find all posts by this user
Quote this message in a reply
Post Reply